KAMPUNG KEMASAN

-Pusat perdagangan dan industri di Gresik yang mengalami perubahan fungsi-

“ Tinjauan Hystoris “

Oleh : Deny Wahyu Apriadi

“ Kampung Kemasan “, nama daerah ini sudah cukup familiar bagi telinga saya, sejak kecil saya sering mendengar orang-orang membahas mengenai daerah ini, namun dikarenakan pada saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, maka secara sadar saya belum mengerti dengan jelas seperti apakah wujud dan kondisi daerah yang sering saya dengar tersebut, bahkan letaknyapun saya belum mengetahuinya, hal ini merupakan bentuk real karena saya belum pernah singgah dan mencoba sebelumnya datang ke daerah tersebut. Pada saat saya sudah berada pada bangku sekolah menengah atas, maka keinginan saya untuk mengetahui daerah yang sering saya dengar tersebut semakin kuat, hal ini saya mulai dengan mencoba menelusuri letak daerah tersebut.

Penelusuran saya saat itu belum mencapai hasil optimal, saya hanya sekedar mengetahui letak daerah tersebut tanpa menganalisisnya lebih dalam, melihat pada hal tersebut maka saat ini, saat saya sudah duduk di bangku perkuliahan, saya tergelitik kembali untuk meneruskan misi saya yaitu untuk mengenal lebih dekat daerah yang sering saya dengar dari kecil tersebut, sekaligus sebagai bentuk aktualisasi usaha dalam menyusun sebuah karya etnografi pertama saya sebagai seorang calon Antropolog. Demi mendapatkan hasil analisis yang akurat, saya melakukan beberapa hal pokok, yaitu dimulai dari proses observasi ( pengamatan ) kemudian dilanjutkan dengan turun lapangan langsung pada daerah kawasan kampung kemasan tersebut, serta saya tidak lupa melakukan serangkaian kegiatan depth interview ( wawancara mendalam ) dengan pihak yang berkopenten dan relevan di bidangnya yaitu pihak yang faham betul mengenai kampung kemasan ini, baik dalam segi sejarah, perkembangan masyarakatnya serta hal-hal pendukung lainnya.

Namun dengan semakin cepatnya arus modernisasi zaman, maka banyak sekali perubahan yang bersifar social dan cultural yang ada di kawasan ini, hal penting yang ada salah satunya adalah mengenai pergeseran fungsi kawasan kampung kemasan dari pusat industri pada masa kolonial Belanda menjadi kawasan permukiman saat ini ( P ) merupakan hal yang melatarbelakangi penulisan karya etnografi ini. Bersama Bpk. H Noet, beliau merupakan budayawan sekaligus pemilik sebagian rumah diantara rumah-rumah tua yang berada tepat di Kampung Kemasan tersebut, sehingga hal ini semakin membantu saya di dalam proses pengumpulan data yang nantinya diharapkan dapat menunjang karya etnografi saya dari penuturan depth interview ( wawancara mendalam ) yang beliau paparkan. Menurut Bpk. H Noet kampung Kemasan dulunya sebelum dihuni atau diubah sedemikian rupa, terdapat penghuni lama yang tempatnya masih di sekitar kampung kemasan ini, warga tersebut yaitu seorang warga keturunan china yang bernama “Bak liong“.

Beliau adalah seorang pedagang emas sekaligus pembuat emas. Sehingga terdapat beberapa versi mengenai asal muasal nama kampung kemasan ini, ada argumentasi yang menyebutkan bahwa di namakan kampung kemasan karena adanya pedagang dan pembuat emas (Tukang mas) yang berada di sekitar kampung kemasan sehingga masyarakat sekitar menamainya kampung kemasan, dan hal ini perlu ditegaskan dengan jelas bahwa nama kampung kemasan bukan karena adanya pertambangan emas ataupun ada orang dari bawean yang menamainya kampung kemasan, namun menurut penuturan H. Noet adanya Tukang mas di kawasan tersebut yang membuat masyarakat mengidentikan daerah itu dengan sebutan kampung kemasan. Menurut keterangan dari H. Noet, kampung kemasan ini dulunya didirikan dan diprakasai oleh H. Oemar, beliau memiliki 5 orang anak dan salah satunya adalah kakek dari H. Noet, dan nama-nama anak dari H. Oemar diantaranya adalah : H. Asnar, H. Djaelan, H. Djainudin ( kakek dari Bpk. H. Noet), H. Muchsin, dan H. Abdul Dja’far. Pada kehidupannya keluarga H. Oemar beserta anaknya mendirikan sebuah toko yang menjual kulit dan terdiri dari bermacam-macam kulit antara lain : kambing, sapi, kerbau, ular, buaya. ( D )

Usaha toko kulit ini berada di kawasan kampung kemasan, sehingga geliat industri di daerah ini sangat maju pesat sekali, bahkan orang-orang yang berasal dari eropa, china juga berdagang dan melakukan kegiatan perdagangan di kampung kemasan ini, namun semakin lama fungsi kawasan kampung kemasan ini semakin berganti, yaitu yang awalnya berupa pusat perdagangan dan sentra perindustrian, maka pada saat ini, kawasan ini hanya dijadikan sebatas pemukiman penduduk tanpa ada lagi kegiatan perdagangan dan perindustrian ( J ). Kembali pada usaha industri kulit milik H. Oemar tadi, dengan pangsa pasar yang luas akhirnya membuat usaha kulit tersebut menjadi berhasil dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, sehingga pada tahun 1986 setelah H. oemar sudah tidak bekerja lagi, toko kulit pun menyebar dan membuka berbagai cabang sehingga usaha ini secara bertahap di jalankan oleh kelima orang anak nya tersebut.

Penyebaran penjualan kulit ini kebanyakan dilakukan di pulau jawa terutama di Jawa Timur, Jawa Tenggah, Jawa Barat, dan DKI. Jakarta. Hal inilah yang merupakan suatu keistimewaan dari kota Gresik di bandingkan kota lainnya, yaitu jika di kota lain hampir seluruh perdagangan di kuasai oleh masyarakat luar kota tersebut tetapi di Gresik posisi tersebut sebaliknya, hampir dari seluruh perputaran perdagangan di Kota Gresik, di kuasai oleh orang Pribumi asli Gresik. Kembali kepada Istilah kampung kemasan itu sendiri adalah merupakan nama suatu wilayah perkampungan yang berada di kawasan kabupaten Gresik, kecamatan Gresik, dan tepatnya terletak di kelurahan Pekelingan. Bila kita lihat lebih dalam, kampung kemasan ini merupakan bentuk “ Part Of “ ( Bagian ) dari kawasan kota lama Gresik yang secara nyata merupakan cikal bakal dari terbentuknya Kabupaten Gresik, peranan yang penting dari pola perkampungan ini yaitu memiliki nilai “ Hystory “ ( Sejarah ) yang tinggi dan kekhasan kawasan tersebut bila dilihat dari aspek fisiknya. Secara tegas, bahwa keberadaan kampung kemasan tidak lain adalah merupakan sebutan bagi penggalan sebuah gang sepanjang sekitar 200 meter yang membentuk pola pemukiman, dan cocok bila kita gunakan untuk mencoba menelusuri makna local dari suatu tempat ( K ).

Hal itu mengenai nama daerah, atau hal-hal yang lainnya, maka versi yang lainnya menyebutkan bahwa nama kemasan di sini masih ada hubungannya dengan status suatu kelompok masyarakat tertentu yang konon ceritanya dari kelompok atau marga “kemas”. Hal ini dapat dilihat dari bangunan-bangunan rumah tempat tinggal kelompok tersebut di daerah kemasan yang bergaya Eropa dan China. Gaya Eropa dapat dilihat dari pilar-pilar penyangga atap, bentuk jendela dan pintu yang relatif besar. Sedangkan gaya arsitektur China dapat dilihat pada bentuk atap dan pemakaian warna serba merah pada catnya. Sejak didirikan bangunan-bangunan rumah tersebut pada tahun 1909, sejak itulah kompleks ini dinamakan Kampung Kemasan. Kampung ini terletak di Jalan Nyai Ageng Arem-arem Gang III, dan obyek yang diamati berupa bangunan-bangunan rumah tinggal yang terletak di kiri dan kanan gang sepanjang 200 m. Melihat kondisi yang ada, bangunan rumah tersebut masih terawat dengan baik, dikarenakan masih ditempati sebagai rumah tinggal dan bagian atasnya dimanfaatkan untuk budidaya Burung Walet.

Lokasi ini pada abad ke-19 M merupakan kawasan perdagangan dan perindustrian bagi orang-orang Eropa dan kaum pribumi yang cukup mapan dari segi ekonomi. Bangunan-bangunan di kanan dan kiri gang ini memiliki arsitektur perpaduan antara corak Eropa dan China. Unsur Eropa dapat dilihat pada tampak depan bangunan, yang umumnya memiliki susunan anak tangga yang makin mengecil ke atas, dengan tiang-tiang bergaya doria dan ionia, serta pintu jendela berukuran besar dengan lengkung-lengkung di bagian atasnya. Terdapat tambahan dari versi yang pertama tadi yang dipaparkan oleh H. M. Noet mengenai cerita seorang turunan Cina yang bernama Bak Liong yang mempunyai keterampilan membuat kerajinan dari emas. Keterampilannya inilah yang menjadikan dia terkenal dan banyak penduduk yang datang untuk membuat atau memperbaiki perhiasannya. Sejak itu kawasan yang ditempati ini dinamakan kampung kemasan. Unsur China tampak pada sejumlah ornamen maupun tempat hio di pintu gerbang rumah. Sebagian besar rumah-rumah tersebut berlantai dua. Menurut tradisi lisan bahwa dimasa pendirian rumah-rumah ini seluruhnya didominasi oleh warna merah.

Rumah-rumah ini dihuni oleh orang-orang yang masih mempunyai hubungan keluarga, dan termasuk rumah megah untuk ukuran zamannya. Penduduk sekitarnya menyebut dengan istilah kemasan yang berkonotasi masa-masa keemasan. Di kampung kemasan ini banyak di temukan rumah-rumah kuno dan beberapa bagiannya memiliki sejarah penting bagi pengetahuan generasi penerus bangsa. Selain dapat di temukan bangunan tua yang memiliki ciri khas unik, ternyata juga banyak terdapat beberapa cerita menarik sebagai lanjutan berbagai versi asal mula kampung kemasan ini, sehingga hingga saat ini orang sekitar menamai kampung ini sebagai kampung kemasan. Kampung kemasan sudah ada sejak bertahun-tahun lamanya hingga sekarang, dan saat ini menjadi salah satu icon pariwisata budaya di kota Gresik, hal ini dikarenakan kawasan tersebut memiliki bangunan kuno yang memiliki seni arsitektur yang unik dan indah sehingga dapat mengajak wisatawan untuk dapat menikmati bangunan tua tersebut. Namun, setelah melakukan depth interview ( wawancara mendalam ) ternyata pengukuhan wilayah tersebut sebagai icon pariwisata kota Gresik banyak menuai ganjalan baik secara tertulis mengenai pengesahan dari pemerintah daerah maupun cerita yang simpang siur mengenai kebenaran dari sejarah kampung kemasan itu sendiri.

Dalam segi arsitektur terlihat sepintas bahwa bangunan-bangunan tua yang ada di kampung kemasan ini adalah bangunan orisinil dari china, hal ini dikarenakan penggunaan warna cat dari tembok maupun penyangganya yang identik dengan warna merah dan putih, bisanya warna tersebut banyak kita jumpai di daerah pecinan yang dimana bangunan-banguan disana juga memiliki warna yang hampir sama. Tetapi dibalik cat tembok maupun pilar yang berwarna merah itu, ternyata sebagian besar adalah arsitektur eropa, di mana ada pilar-pilar besar di depannya, kemudian ada ukiran-ukiran menyerupai lukisan di antara dinding-dinding nya dan hal ini menunjukkan bahwa bangunan tua ini adalah perpaduan antara arsitektur china, eropa, dan Indonesia, identitas bangunan Indonesianya berada di dalam bangunan yang menyerupai rumah joglo.

Karya arsitektur ini didapatkan karena banyaknya pembeli atau pedagang yang berasal dari dataran China dan dataran Eropa dan akhirnya membuat H. Oemar mempunyai suatu inisiatif sendiri untuk memadukan antara arsitektur China, Eropa, dan Indonesia. Hal ini juga dapat disebut sebagai bentuk toleransi antara berbagai bentuk budaya suku bangsa yang ada, sehingga pada suatu saat bila ada bangsa China atau Eropa yang datang, mereka nantinya dapat merasakan seperti berada di kampung halamannya sendiri. Dengan ukiran ataupun warna-warna cat yang ada mengakibatkan banyaknya perbedaan dan keunikan yang membuat orang itu kagum akan adanya perpaduan arsitek dari berbagai belahan dunia itu. Salah satu keunikannya ketika kita masuk yang kita liat pertama kali yaitu adanya tiang-tiang besar penyangga bangunan dan tembok-temboknya yang berwarna merah dan putih, bahkan ketika kita menggangkat kepala sedikit kelantai dua, disana terdapat berbagai macam model arsitektur eropa, dan ketika kita masuk ke dalam rumah, maka semua pandangan kita tentang model arsitek Jawa juga dapat kita rasakan yaitu dengan adanya bentuk pintu yang menyerupai rumah joglo. Tidak hanya berhenti disitu keunikan yang lain juga ada ketika kita menaiki lantai dua. Awal nya kita akan berfikir di lantai dua nantinya akan ada ruangan-ruangan atau kamar seperti rumah-rumah yang ada pada zaman sekarang, namun hal tersebut meleset, justru yang kita lihat di lantai dua itu hanyalah terdapat ruangan kosong yang di jadikan searang burung walet.

Model arsitektur yang tampak dari luar itupun merupakan tipuan mata bagi orang yang melihat dari sisi luar saja tanpa melihat bagian dalam. Ini juga mencermikan kemabali perkataan orang bijak bahwa janganlah hanya melihat dari luar saja tetapi yang terpenting adalah dalamnya, artinya meskipun dari luar telihat seperti bangunan china dan eropa tetapi didalamnya tetap bernuansa Jawa. Menurut data yang saya dapatkan rumah-rumah yang berada di kampung kemasan itu ada 12 rumah yang beronamen sama, itu di karenakan penghuni dari ke 12 ruamh itu di huni oleh oarang memiliki keturunan yang sama dengan pendiri dan pembangun kampung kemasan itu yang tidak lain adalah keluarga H. Oemar.

Di samping itu ada lagi anak dari H. Oemar yang bernama H. Djaelan yang bertempat tinggal tidak jauh dari kampung kemasan itu, rumah H. Djaelan ini juga memiliki keunikan tersendiri yaitu berupa patung yeng membelakangi kampung kemasan. Hal ini dikarenakan adanya keretakan silaturahmi antara keluarga H. Djaelan dengan saudaranya-saudaranya yang berada di kampung kemasan, sehingga H. Djaelan menaruh patung gajah di depan rumah nya kemudian arah kepalanya menghadap rumah H. Djaelan dan bagian belakangnya menghadap ke arah kampung kemasan. Awal dari keretakan itu adalah masalah persaingan dagang. Hal tersebut hanya merupakan bentuk tambahan dari sejarah yang ada di kawasan kampung kemasan. Terlepas dari hal tersebut, bagi saya pada akhirnya kampung kemasan itu saat ini hanya di jadikan sebagai tempat wisata budaya ( A ) yang berupa bangunan tua dan sudah di patenkan oleh pemerintah kota meskipun sampai saat ini tanpa ada penanganan lebih lanjut lagi, hal ini dikarenakan pemerintah kota hanya sekedar mengambil nama kampung kemasan untuk koleksi referensi tempat wisata saja, namun seharusnya pemerintah kota menyadari point penting dari keunikan itu, dan kemudian dijalankan kembali upaya-upaya perlindungan dan perawatan kawasan kampung kemasan tersebut.

ATTENTION FINAL EXAM ” ANTROPOLOGI AGAMA “

ATTENTION :

Bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah “ ANTROPOLOGI AGAMA “, maka tolong diperhatikan untuk ketentuan UAS, Yaitu :

1.Tidak ada ujian tertulis


2.Ujian ( UAS ) diganti dengan Laporan Fix Hasil Kuliah Lapangan


3.Ketentuan Pengumpulan Laporan Kuliah Lapangan :

a.Masing-masing kelompok mengumpulkan 3 Eksemplar Laporan,

yaitu : Untuk Dosen 1, Untuk Fakultas 1, Untuk Pribadi 1.


b.Laporan yang di PRINT hanya satu saja, kemudian di Foto Copy 2 kali ( Fotocopy nya tolong yang bagus ), jadi nantinya akan ada 1 eksemplar yang dalam bentuk print, dan dua eksemplar dalam bentuk fotocopy.


c.ke 3 Eksemplar laporan tadi “ JANGAN DIJILID “ ( Karena nanti akan digabungkan dan diatur oleh panitia )


d.Pengumpulan laporan kuliah lapangan, dilakukan di ruang ujian A. 313 sesuai jadwal UAS Antropologi Agama yaitu : JUMAT, 1 Juli 2011 paling lambat ditunggu hingga Pukul. 09.00 WIB.


e.Seluruh mahasiswa wajib hadir, dikarenakan adanya absensi dan presensi kehadiran ujian.

Jika ada yang kurang jelas, dapat menghubungi saya
( Deny Wahyu Apriadi ).

Asisten Dosen

IMPORTANT ” Antropologi Agama “

Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa peserta mata kuliah “ Antropologi Agama “, pertemuan kuliah terakhir akan dilaksanakan pada hari Jumat, ( 17 Juni 2011 ) Pukul. 07.00 WIB di ruang kuliah A. 313, dengan agenda presentasi dua kelompok terakhir yang akan mempresentasikan hasil laporan kuliah lapangannya dan pemberitahuan penting mengenai agenda Ujian Akhir Semester ( UAS ). Mengingat pentingnya agenda yang akan dilaksanakan, maka pada pertemuan kuliah terakhir ini diharapkan dapat memaksimalkan keaktifan di kelas dan kontribusi kehadiran. Terima Kasih

 

Asisten Dosen

( Deny Wahyu Apriadi )

RALAT TENTANG UTS Mata Kuliah ” Antropologi Agama ” 2011

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS AIRLANGGA


UJIAN TENGAH SEMESTER ( UTS )

Mata Kuliah     : Antropologi Agama ( SOA 352 )

Hari/Tanggal   : Jumat 29 April 2011

Pukul : 07.30 – 09.00

Ruang : A. 310

Sifat : Take Home

Dosen PJMK   : Drs. Budi Setiawan M.A

SOAL :

1.      Seperti apakah perspektif teoritis dari Emile Dhurkeim dan Marry Douglash tentang struktur suci dan kotor ( sakral dan profan ) dalam aspek fenomena keagamaan? Dimana letak perbedaan dari kedua pandangan atau perspektif tersebut diatas, dengan memberikan sekaligus contoh kasusnya. ( Score : 50 )

2.      Dalam pendefinisian yang dilakukan oleh Clifford Geertz tentang agama ( lihat definisi agama dalam artikel Clifford Geertz ), berikan penjelasan maksud dari Clifford Geertz itu dalam setiap proposisi pendefinisiannya itu? Dan bagaimana implikasi metodologisnya dari pendefinisian tersebut yang menyatakan agama sebagai sistem budaya ? ( Score : 50 )

Selamat Mengerjakan

Ketentuan :


1. UTS bersifat take home, sehingga soal dapat dikerjakan di rumah dan boleh berdiskusi kelompok, namun tetap perlu diingat bahwa hasil akhir tidak boleh sama.

2. Diperbolehkan menggunakan semua literatur yang ada ( jangan lupa mencantumkan sumber ).

3. Bila ada jawaban yang sama dan mengacu pada tanda-tanda PLAGIATISME jawaban, maka mahasiswa tersebut dinyatakan gugur dan dianggap tidak mengikuti UTS.

4. Pengumpulan jawaban UTS, tepat pada tanggal 29 April 2011, Pukul. 07.30 WIB di ruang. A. 310. ( Paling lambat pukul. 08.00 WIB )

5. Jawaban UTS diketik rapi dan mencantumkan nama lengkap dan NIM mahasiswa.

6. Segala bentuk PLAGIATISME dan ketidak jujuran, akan dianggap tidak mengikuti UTS.

Lokakarya ” Perkembangan Teori dan Metode Antropologi”

Narasumber :
Prof.Dr.Heddy Shri Ahimsa-Putra,M.A,M.Phil
(Guru Besar Antropologi UGM )

Moderator :
Drs.Nurcahyo Tri Arianto,M.Hum

Lantai 3 Gedung C FISIP UNAIR
JUMAT,6 MEI 2011
08.00 – 11.00 WIB

Fasilitas : Makalah , Snack , Sertifikat

“Free”
Wajib bagi Mahasiswa ANTROPOLOGI UNAIR

Syarat dan ketentuan :
– Pendaftaran dimulai hari Senin tanggal 18 April s/d 1 Mei 2011.
– Peserta Wajib mengisi formulir yang telah disediakan oleh panitia dan di kumpulkan sesuai tanggal yang tercantum.
– Bagi yang tidak mengisi formulir pendaftaran tidak dapat mengikuti kegiatan seminar.
– Bagi yang sudah mendaftar, makalah akan dibagikan pada tanggal 3 Mei 2011.

Pendaftaran :
Deny A. (’08) 085733240681
Pandu Pratama (’08) 085235013390
Ayu Ike (’09) 085646828924
Reza (’10) 085763211916

SELEKSI ALAM & EVOLUSI

I. Pengantar Mengenai Seleksi Alam dalam Evolusi :

Seleksi Alam sering di identifikasi sebagai suatu proses alamiah. Seleksi alam telah dikenal ahli biologi sebelum Darwin yang mendefinisikannya sebagai “ mekanisme yang menjaga agar spesies tidak berubah tanpa menjadi rusak ”. Darwin adalah orang pertama yang mengemukakan bahwa proses ini mengalami kekuatan evolusi. Ia kemudian membangun seluruh teorinya berlandaskan pernyataan tersebut. Seleksi alam sebagai dasar teori Darwin ditunjukkan oleh judul yang ia berikan pada bukunya The Origin of Species by Means of Natural Selection. Seleksi alam menyatakan bahwa makhluk-makhluk hidup yang lebih mampu menyesuaikan diri degan kondisi alam habitatnya akan mendominasi dengan cara memiliki keturunan yang mampu bertahan hidup, sebaliknya yang tidak mampu bertahan akan punah. Gagasannya menyatakan bahwa individu-individu yang beradaptasi pada habitat mereka degan cara terbaik akan menurunkan sifat-sifat mereka kepada generasi berikutnya. Sifat-sifat yg menguntungkan ini lama kelamaan terakumulasi dan mengubah suatu individu menjadi spesies yang sama sekali berbeda degan nenek moyangnya . Menurut Darwin manusia adalah hasil paling maju dari mekanisme ini. Darwin menamakan proses ini “evolusi melalui seleksi alam”. Seleksi alam merupakan sebuah proses yang menyebabkan sifat terwaris yang berguna untuk keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme menjadi lebih umum dalam suatu populasi dan sebaliknya, sifat yang merugikan menjadi lebih berkurang. Hal ini terjadi karena individu dengan sifat-sifat yang menguntungkan lebih berpeluang besar bereproduksi, sehingga lebih banyak individu pada generasi selanjutnya yang mewarisi sifat-sifat yang menguntungkan ini. Setelah beberapa generasi, adaptasi terjadi melalui kombinasi perubahan kecil sifat yang terjadi secara terus menerus dan acak ini dengan seleksi alam.

Seleksi alam adalah proses di mana mutasi genetika yang meningkatkan keberlangsungan dan reproduksi suatu organisme menjadi (dan tetap) lebih umum dari generasi yang satu ke genarasi yang lain pada sebuah populasi. Ia sering disebut sebagai mekanisme yang “terbukti sendiri” karena: Variasi terwariskan terdapat dalam populasi organisme. Organisme menghasilkan keturunan lebih dari yang dapat bertahan hidup, keturunan-keturunan ini bervariasi dalam kemampuannya bertahan hidup dan bereproduksi. Kondisi-kondisi ini menghasilkan kompetisi antar organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Oleh sebab itu, organisme dengan sifat-sifat yang lebih menguntungkan akan lebih berkemungkinan mewariskan sifatnya, sedangkan yang tidak menguntungkan cenderung tidak akan diwariskan ke generasi selanjutnya. Konsep pusat seleksi alam adalah kebugaran evolusi organisme. Kebugaran evolusi mengukur kontribusi genetika organisme pada generasi selanjutnya. Namun, ini tidaklah sama dengan jumlah total keturunan, melainkan kebugaran mengukur proporsi generasi tersebut untuk membawa gen sebuah organisme.

Kasus khusus seleksi alam adalah seleksi seksual, yang merupakan seleksi untuk sifat-sifat yang meningkatkan keberhasilan perkawinan dengan meningkatkan daya tarik suatu organisme.  Bidang riset yang aktif dalam bidang biologi evolusi pada saat ini adalah satuan seleksi, dengan seleksi alam diajukan bekerja pada tingkat gen, sel, organisme individu, kelompok organisme, dan bahkan spesies. Dari model-model ini, tiada yang eksklusif, dan seleksi dapat bekerja pada beberapa tingkatan secara serentak. Di bawah tingkat individu, gen yang disebut transposon berusaha menkopi dirinya di seluruh genom. Seleksi pada tingkat di atas individu, seperti seleksi kelompok, dapat mengijinkan evolusi ko-operasi. Seleksi alam menyebabkan karakter-karakter yang positif semakin banyak muncul dalam populasi. Dan setelah melewati banyak sekali generasi, suatu populasi dapat memiliki banyak karakter baru yang berbeda dari karakter nenek moyangnya sehingga muncullah spesies baru.

II. Contoh Evolusi Seleksi Alam pada Manusia :

  1. Manusia merupakan organisme paling maju di bumi. Manusia, organisme yang tidak mempunyai senjata untuk membela diri, merupakan satu-satunya organisme yang kemudian menggunakan kemampuan otak untuk dapat bertahan hidup. Secara umum terlihat bahwa evolusi memberikan kecenderungan penyempurnaan. Hal-hal baik dipertahankan, sedangkan hal yang buruk terseleksi dan punah. Salah satu hal baik yang selalu kita jumpai adalah pertambahan ukuran yang berarti evolusi menuju kepada komponen tersier.
  1. Seleksi alam dalam sebuah populasi untuk sebuah sifat yang nilainya bervariasi, misalnya tinggi badan, dapat dikategorikan menjadi tiga jenis. Yang pertama adalah seleksi berarah (directional selection), yang merupakan geseran nilai rata-rata sifat dalam selang waktu tertentu, misalnya organisme cenderung menjadi lebih tinggi. Kedua, seleksi pemutus (disruptive selection), merupakan seleksi nilai ekstrem, dan sering mengakibatkan dua nilai yang berbeda menjadi lebih umum (dengan menyeleksi keluar nilai rata-rata). Hal ini terjadi apabila baik organisme yang pendek ataupun panjang menguntungkan, sedangkan organisme dengan tinggi menengah tidak. Ketiga, seleksi pemantap (stabilizing selection), yaitu seleksi terhadap nilai-nilai ektrem, menyebabkan penurunan variasi di sekitar nilai rata-rata. Hal ini dapat menyebabkan organisme secara pelahan memiliki tinggi badan yang sama.
  1. Gen manusia berevolusi dengan cepat di benua Eropa, Asia dan Afrika. Namun perubahan tersebut berbeda-beda sesuai dengan benua asalnya. Akibatnya, manusia secara genetik menjadi semakin berbeda satu dengan lainnya. Contoh karakter yang semakin muncul adalah mata biru dan kulit putih di Eropa Utara serta ketahanan terhadap malaria di Afrika. Hal itu terjadi karena turunnya tingkat kawin mawin antar benua dibanding pada masa nenek moyang manusia modern meninggalkan Afrika untuk menyebar ke seluruh dunia Lima ribu tahun merupakan waktu yang sangat singkat bila menyangkut sebuah proses evolusi. Namun dalam evolusi manusia ini, hanya dalam 100 sampai 200 generasi, gen yang menguntungkan dan terseleksi telah dimiliki oleh 30%-40% populasi manusia. Salah satu faktor yang menyebabkan evolusi cepat ini adalah perubahan lingkungan. Pola dan bahan makanan kita berubah dengan cepat, demikian juga dengan timbulnya berbagai penyakit. Ini semua memaksa spesies manusia untuk ’berubah’, agar dapat terus bertahan hidup walau apa pun yang terjadi.
Sumber Pustaka :

http://www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg22904.html

( Diakses Pada : 14 April 2010, pukul . 21.05 Wib )

http://www.e-Library.UT. html

( Diakses Pada : 14 April 2010, pukul . 22.15 Wib )

http://www. Evolusi/Wikipedia.ensiklopedi/bebas.html

( Diakses Pada : 15 April 2010, pukul . 11.05 Wib )

Dosen Antropologi FISIP UNAIR Sebagai Pemakalah dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan “Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia“ ( PAAI ) di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Dra. Myrtati Dyah Artaria, MA., Ph.D. adalah salah satu dosen pada Departement Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya, kiprahnya di dunia Antropologi sudah lama malang melintang, khususnya pada bidang Antropologi Ragawi. Berbagai pengalaman sebagai dosen Antropologi Ragawi telah diembannya selama hampir 20 tahun, bahkan penghargaan Satya Lancana dari Presiden Republik Indonesia Dr. Susilo Bambang Yudhoyono pun telah didapatnya karena pengabdiannya yang besar terhadap dunia pendidikan.. Gelar MA, Anthropologi Didapatnya dari Arizona State University dan gelar P.hD, Anatomy dari The University Of Adelaide. Ketertarikannya pada dunia Antropologi Ragawi, ia rasakan sejak duduk di bangku SMA. Keahliannya dalam berbagai hal yang berkaitan dengan Bidang Antropologi Ragawi yang digelutinya saat ini, adalah buah manis dari rasa ingin tahunya yang sangat besar pada saat belajar di bangku perkuliahan. Rasa ingin tahu itu akhirnya dapat membawanya meraih berbagai Penghargaan bergengsi dalam dunia Medis dan Sosial, diantaranya adalah Kartini Award, Penghargaan ini adalah hasil kerja kerasnya dalam bidang Rekonstruksi Wajah, dan dari berbagai hasil penelitian pada bidang Antropologi Ragawi. Penghargaan ini bertaraf Nasional, sehingga Myrtati Dyah Artaria dapat menyisihkan Wanita-Wanita Hebat dan tangguh di Indonesia yang memiliki Keahlian dalam bidang Ilmu Pengetahuan.

Baru-baru ini Pada tanggal 7 sampai 8 Agustus 2009 yang lalu , perempuan lulusan University of Adelaide ini menjadi salah satu pemakalah dalam pertemuan ilmiah tahunan “Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia“ (PAAI) di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Dengan Tema Tumbuh Kembang Pada Anak, yang lebih terspesifikasi pada Topik Perbedaan Tumbuh Kembang antara Anak Laki-laki dan Perempuan, beliau memaparkan hasil penelitiannya di hadapan anggota “Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia“ (PAAI) yang beranggotakan dosen-dosen dan para ahli, di antaranya adalah dari Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran Hewan, Ilmu Biologi dan Antropologi Ragawi dari berbagai universitas di Indonesia. Untuk menjadi Pembicara dalam Pertemuan ilmiah ini syarat yang harus dipenuhi tidak mudah, dimulai dari pengiriman abstrak yang kemudian di seleksi dengan ketat oleh pihak “Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia“ (PAAI), sehingga kemudian menghasilkan 67 orang pembicara dengan latar belakang tema yang berbeda. ” Kesempatan menjadi pembicara dalam pertemuan ilmiah tingkat nasional seperti ini adalah kesempatan yang luar biasa dan sangat menyenangkan ” ucapnya.

Myrtati Dyah Artaria juga menjabat sebagai Sekretaris Umum  “Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia“(PAAI) pada tahun 2008 hingga tahun 2011, pada awalnya beliau aktif pada “Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia“ (PAAI) Komisariat Surabaya. Hal lain yang menarik pada Organisasi    “Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia“ (PAAI) ini adalah diterbitkannya Jurnal Anatomi Indonesia yang merupakan sebuah sarana dalam menyalurkan aspirasi para ahli anatomi di Indonesia untuk dapat berbagi ilmu pengetahuan dengan semua orang dalam karya tulisnya, Myrtati Dyah Artaria juga aktif sebagai penulis di dalam Jurnal tersebut, banyak juga para ahli Antropologi Ragawi dari Universitas Airlangga Surabaya  yang turut serta mengisi berbagai wacana dalam jurnal tersebut, seperti halnya Dr. Toetik K. dan Prof. J. Glinka. Hal ini dapat pula dijadikan sebagai pembuktian awal bahwa para ahli Antropologi Ragawi dari Universitas Airlangga Surabaya sangat diperhitungkan dalam dunia Anatomi di Indonesia, bahkan dunia. Lingkup antropologi sebagai salah satu bidang ilmu yang ada saat ini sudah sangat berkembang sehingga kedudukan antropologi sudah dapat diterima dengan baik oleh masyarakat luas pada umumnya. Pada tahun 2011 mendatang “Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia“ atau     (PAAI) akan menggelar Pertemuan Ilmiah Ahli Anatomi Internasional yang bekerjasama dengan negara Jepang. Hal ini diharapkan dapat menjadi sarana yang baik bagi para ahli Anatomi Indonesia agar mampu berkerjasama dengan dunia Internasional pada lingkup yang lebih luas. Maka patut berbanggalah kita memiliki ahli Antropologi Ragawi yang sangat berkompeten di bidangnya, seperti halnya Myrtati Dyah Artaria. (* Dny )


Previous Older Entries