SEJARAH TEORI ANTROPOLOGI I

–         Buatlah Ringkasan Bab I, II & III Buku “ SEJARAH TEORI ANTROPOLOGI I  “ milik ( Koentjaraningrat )

BAB I :

BAHAN MENTAH UNTUK ANTROPOLOGI :

I. Masalah Ruang Lingkup dan Dasar Antropologi

Suatu ilmu yang mempelajari mahluk ( Anthropos ) atau Manusia, lazim disebut Ilmu Antropologi. Ilmu ini merupakan suatu integrasi dari beberapa ilmu yang masing-masing mempelajari suatu kompleks masalah-masalah khusus mengenai mahluk manusia. Proses integrasi tadi merupakan suatu proses perkembangan panjang yang dimulai sejak permulaan abad ke 19 yang lalu dan berlangsung terus-menerus sampai pada saat ini. Integrasi yang tercapai sesudah tahun 1951 sekarang telah disadari oleh banyak ahli di berbagai Negara di mana ilmu Antropologi Hidup dan hal ini tampak dari buku-buku pelajaran ilmu Antropologi. Untuk mencapai pengertian yang sungguh-sungguh mengenai ruang lingkup dan dasar ilmu Antropologi, yang memang belum mencapai suatu stabilisasi dan bentuk umum yang seragam, sebenarnya belum cukup untuk hanya menyelami bentuk integrasi umum dari ilmu Antropologi.

II. Bahan Tentang Adat-Istiadat Bangsa-Bangsa Di Luar Eropa

Penulisan mengenai adat-istiadat bangsa-bangsa asing dapat ditemukan dalam semua peradaban besar yang pernah ada dalam sejarah manusia sejak zaman purba. Yang sangat penting untuk perkembangan pertama dari Antropologi adalah bahan keterangan adat-istiadat dan bentuk-bentuk masyarakat suku-suku bangsa penduduk pribumi dari Afrika, Asia, Oseania ( Kepulauan-Kepulauan di lautan Teduh ) dan Amerika yang di tulis oleh orang-orang eropa barat ketika bangsa-bangsa eropa barat mulai ekspedisi ke daerah-daerah lain di muka bumi.

Bahan Keterangan itu termuat dan terkumpul dalam :

  1. Kisah Perjalanan Pelaut dan Musafir bangsa Eropa
  2. Dalam laporan dan buku-buku karangan para penyiar agama nasrani.
  3. Dalam Laporan dan karangan-karangan para pegawai pemerintahan jajahan Negara-negara Eropa.
  4. Dalam Buku-Buku yang ditulis oleh para peneliti alam dan para ahli ilmu bumi dari Negara-negara Eropa barat.

Karangan-karangan mengenai masyarakat dan kebudayaan bangsa Indonesia ada pula yang ditulis oleh para pegawai pemerintahan penjajahan belanda, terutama dari zaman sesudah Indonesia dikembalikan lagi oleh inggris kepada Belanda. Banyak laporan, karangan, dan buku yang telah ditulis oleh para pelaut dan musafir, penyiar agama nasrani, pegawai pemerintah jajahan belanda dan peneliti alam tersebut di atas, mengandung banyak bahan keterangan mengenai adat-istiadat bangsa-bangsa, penduduk-penduduk daerah yang di teliti. Bahan-bahan keterangan tentang adapt-istiadat, cirri-ciri tubuh, bahasa yang diucapkan oleh bangsa-bangsa di luar eropa tadi disebut bahan Etnografi “ Pelukisan Tentang Bangsa “. Dalam masa beberapa abad lamanya bahan itu dapat terkumpul.

BAB II

ETNOGRAFI DAN MASALAH ANEKA WARNA MANUSIA

I. Masalah Aneka warna Manusia di Eropa dalam Abad Ke 16 Hingga Ke 19.

Sikap Orang Eropa dalam abad ke 16 hingga abad 19 yang membaca karangan-karangan Etnografi tersebut di atas, atau yang melihat pameran benda-benda Etnografika dalam berbagai Museum di berbagai Negara Eropa, sanagt berbeda satu dari yang lain. Orang awam di Eropa pada umumnya tertarik akan sifat yang anaeh dari benda-benda kebudayaan orang Afrika, Orang Asia, orang Oseania, atau orang Indian Amerika itu, tetapi di antara para ahli filsafat paling sedikit terdapat 3 pandangan dasar mengenai masyarakat dan kebudayaan manusia. Pandangan yang pertama Berdasarkan keyakinan bahwa sikap aneka-warna manusia, baik ragawi maupun rohani, yang tampak dari bahan etnografi dan etnografika itu, disebabkan karena mahluk manusia dari sejak awal diciptakan beraneka warna, atau karena mahluk manusia diturunkan dari beraneka warna mahluk induk Pandangan yang Kedua adalah berdasarkan keyakinan bahwa manusia diciptakan sekali, yaitu bahwa manusia adalah keturunan dari satu mahluk induk, Pandangan ini, yang juga terkenal dengan pandangan monogenesis, dan dapat dibagi lagi ke dalam dua sub pandangan. Pandangan Mengenai degenerasi mahluk manusia sangat kuat di antara para cendekiawan di eropa dalam abad Ke 16, pada waktu mereka mengagungkan kemajuan kesenian, kesusastraan dan ilmu pengetahuan pada zaman kejayaan kebudayaan yunani dan romawi klasik dari abad ke 6 hingga abad ke 1 S.M.

II. Ilmu Anatomi dan Masalah Aneka-Warna Manusia

Ilmu Anatomi dalam masa di antara abad ke 16 dan ke 19 merupakan suatu ilmu yang sudah barang tentu tersangkut dalam masalah polygenesis atau monogenesis mahluk manusia, dan karena itu juga menaruh perhatian yang besar erhadap bahan etnografi dan etnografika itu. Penelitian-penelitian anatomi komperatif menjadi lebih intensif terutama setelah orang eropa melihat lebih banyak aneka warna cirri fisik manusia, dan setelah makin banyak muncul karangan yang mengandung bahan etnografi serta laporan-laporan mengenai aneka warna cirri fisik manusia sesudah abad ke 16. Klasifikasi dari aneka warna cirri tubuh manusia dalam hubungannya dengan sejarah persebarannya di muka bumi, dilakukan oleh seorang dokter yag bernama J.C Prichard ( 1786-1848 ). Ia menghubungkan data Etnografi mengenai cirri-ciri fisik dengan data Etnografi Mengenai kebudayaan berbagai bangsa yang tersebar di seluruh dunia.

III. Filsafat Sosial dan Masalah Aneka Warna Manusia

Para Ahli filsafat Sosial, yaitu para ahli filsafat yang berfikir mengenai bentuk masyarakat yang sempurna serta tingkah laku dan perilaku manusia yang dapat menuju ke arah tercapainya cita-cita semacam itu. Dalam gejala-gejala tingkah laku dan perilaku manusia dalam kehidupan masyarakat, mereka juga mencoba mencari unsure persamaan yang dapat dipakai sebagai azaz-aza generalisasi dalam analisa induktif yang selanjutnya dapat di rumuskan sebagai kaedah-kaedah social.

IV. Filsafat Positivme dan Masalah Aneka Warna Manusia

August Comte adalah contoh dari ahli filsafat social yang paling konsekuen menerapkan metode positivisme tersebut, dalam buku raksasanya yang tebalnya enam jilid, dan berjudul Course de Philosophie Positive ( 1830-1842 ), comte mengemukakaan pendapatnya mengenai metodelogi ilmiah umum, artinya, yang dapat diterapkan terhadap semua ilmu pengetahuan yag ada. Di inggris ada seorang ahli filsafat aliran Positivisme bernama H. Spencer ( 1820-1903 ), yang mengikuti A. Comte dalam sebagian besar dari gagasan-gagasannya terhadap metodologi ilmiah dan penerapan dari metodologi itu terhadap analisis gejala-gejala masyarakat.

V. Masalah Aneka Warna Bahasa

Sejak dulu orang sudah tahu bahwa manusia dari anea warna asal dan bangsa itu mengucapkan berbagai aneka ragam bahsa pula, tetapi suatu hal yang menarik perhatian para ahli kesusastraan abad ke 18 yang mulai mempelajari naskah-naskah kuno dalam berbagai bahasa.

VI. Konsep Evolusi Dalam Ilmu Biologi

Dalam tahun 1858 ahli biologi C. Darwin ( 1809-1882 ) memberikan ceramah yang di sponsori oleh perhimpunan Linnean di London. Pendirian yang di ajukan dalam ceramah dan buku itu adalah bahwa semua bentuk hidup dan jenis mahluk hidup yang kini ada di dunia itu, dengan dipengaruhi oleh berbagai macam proses alamiah, berevolusi atau berkembang dengan baik namun lambat dari bentuk-bentuk yang sangat sederhana ( yaitu mahluk-mahluk satu sel ) menjadi beberapa jenis bau yang lebih kompleks.

VII. Masalah Asal-Mula dan Evolusi Manusia

Penelitian mengenai aneka-warna tubuh manusia secara otomatis membawa para ahli anatomi, biologi dan fisiologis kepada masalah asal mula manusia. Para ahli tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai asal mula manusia itu karena sampai permulaan abad ke 19 sebagian besar dari dunia ilmiah di Eropa belum dapat membayangkan berapa sebenarnya umur manusia di muka bumi ini.

VIII. Lembaga-Lembaga Antropologi Yang Pertama

Perhatian para ahli anatomi, antropologi fisik, paleoantropologi, prehistory, foklor, sejarah kebudayaan, filsafat sosiologi, hokum dan geografi, terhadap bahan Etnografi dan Etnografika yang mereka pergunakan untuk menguraikan pandangan mereka mengenai proses degenerasi, perkembangan ataupun evolusi mahluk manusia, serta masyarakat dan kebudayaan, dipermudah dengan didirikannya lembaga-lembaga Etnologi Di Paris dan London. Di Amerika juga telah didirikan suatu lembaga Etnologi seperti yang ada di Paris, malahan sebelum lembaga yang di London didirikan, yaitu dalam tahun 1842. Nama Lembaga tersebut Adalah The American Ethnological Society.

BAB III

TEORI-TEORI EVOLUSI KEBUDAYAAN

I. Proses Evolusi Sosial Secara Universal

Menurut Konsepsi tentang proses Evolusi social Universal, semua hal tersebut harus di pandang dalam rangka masyarakat manusia yang telah berkembang dengan lambat ( Berevolusi ), dari tingkat-tingkat yang rendah dan sederhana , ke tingkat-tingkat yang makin lama makin tinggi dan complex.

II. Konsep Evolusi Sosial Universal H. Spencer

Semua karya Spencer Berdasarkan Konsepsi bahwa seluruh alam itu, baik yang berwujud nonorganis, organis dan superorganis, berevolusi karena didorong oleh kekuatan mutlak yang di sebutnya sebagai Evolusi Universal ( Spencer 1876 ). Pada tingkat evolusi social, waktu timbul masyarakat beragama, maka masyarakat telah menjadi sedemikian sebesarnya hingga kekuasaan otoriter raja pun tidak lagi cukup, kekuasaan itu perlu di Bantu dengan sifat keramatan raja. Pada tingkat evolusi social selanjutnya timbul masyarakat industri, di mana manusia lebih bersifat individualisme dan dimana kekuasan raja dan keyakinan terhadap raja keramat berkurang.

III. Teori Evolusi Keluarga J.J Bachofen

Menurut Bachofen, di seluruh dunia keluarga manusia berkembang melalui empat tingkat evolusi, yaitu :

ü      Promiskuitas     : Manusia hidup serupa sekawanaan binatang berkelompok, dan laki-laki serta wanita berhubungan dengan bebas dan melahirkan keturunannya tanpa ikatan.

ü      Mathriarchate   : Hubungan si ibu dan anak-anaknya sebagai suatu kelompok keluarga inti dalam masyarakat, karena anak-anak hanya mengenal ibunya, tetapi tidak mengenal ayahnya.

ü      Patriarchate      : Keturunan yang dilahirkan tetap tinggal dengan kelompok pria. Dan menimbulkan keluarga-keluarga yang menempatkan ayah sebagai kepala rumah tangga.

ü      Parental            : Terjadinya perkawinan di luar kelompok , yaitu Exogami berubah menjadi Endogami karena adanya berbagai sebab. Endogami atau perkawinan di dalam batas kelompok menyebabkan bahwa anak sekarang senantiasa berhubungan langsung dengan anggota keluarga ayah maupun ibu.

IV. Teori Evolusi Kebudayaan Di Indonesia

Teori evolusi kebudayaan, terutama teori evolusi keluarga dari J.J Bachoven, juga di terapkan ke dalam aneka-warna Kebudayaan Indonesia oleh ahli Antropologi Belanda G. A Wilken ( 1847-1891 ). Dalam karangannya yang terakhir, dia menerangkan tingkat-tingkat evolusi Bachoven mengenai Promiskuitas, matriarkhat, patriarkhat, dan Keluarga parenta, dengan banyak contoh yag diambilnya terutama dari Indonesia.

V. Teori Evolusi Kebudayaan L.H Morgan

Menurut Morgan, masyarakat dari semua bangsa di dunia sudah atau masih akan menyelesaikan proses Evolusi Melalui kedelapan tingkatan Evolusi, yaitu :

v     Zaman Liar Tua            : Zaman sejak adanya manusia sampai ia menemukan Api.

v     Zaman Liar Madya       : Zaman sejak manusia menemukan Api sampai ia menemukan senjata busur panah.

v     Zaman Liar Muda         : Zaman sejak manusia menemukan senjata busur panah sampai mendapatkan kepandaian membuat barang-barang tembikar.

v     Zaman Bar-Bar Tua      : Zaman Manusia sejak menemukan Kepandaian membuat barang-barang tembikar sampai ia mulai berternak dan bercocok tanam.

v     Zaman Bar-Bar Madya : Zaman sejak manusia mulai bercocok tanam dan bertenak sampai menemukan kepandaian dalam membuat benda-benda yang terbuat dari logam.

v     Zaman Bar-Bar Muda  : Zaman Manusia mengenal pembuatan barang-barang dari logam  sampai ia mengenal tulisan

v     Zaman Peradaban Muda

v     Zaman Peradaban Masa Kini

Morgai Memakai kedelapan tingkatan ini banyak dipakai untuk menyusun bahan yang banyak jumlahnya tentang unsure-unsur kebudayaan dari berbagai suku bangsa.

VI. Teori Evolusi Religi E.B Tylor

Menurutnya, asal mula religi adalah Kesadaran manusia akan adanya jiwa. Kesadaran akan faham jiwa itu disebabkan karena dua hal, yaitu :

Ø      Perbedaan yang tampak pada manusia antara hal-hal yang hidup dan hal-hal yang mati.

Ø      Peristiwa Mimpi.

Jiwa yang telah merdeka terlepas dari jasmaninya itu dapat berbuat sekehendaknya, pada tingkatan tertua dalam teori religinya, manusia percaya bahwa mahluk-mahluk halus itulah yang menempati alam sekeliling tempat tinggalnya. Kemudian Tylor melanjutkan teorinya tentang asal mula religi dengan suatu uraian tentang evolusi religi yang berdasarkan cara fakir Evolusionalisme.

VII. Teori J.Z Frazer Megenai Ilmu Gaib dan Religi

Manusia memecahkan soal-soal hidupnya dengan akal dan system pengetahuannya, tetapi akal dan system pengetahuannya itu ada batasnya. Makin terbelakang kebudayaan manusia, makin sempit lingkaran batas akalnya. Soal-soal hidup yang tidak dapat di pecahkan dengan akal dipecahkannya dengan Magic, ilmu Gaib. Menurutnya, Magic adalah : Semua tindakan manusia untuk mencapai suatu maksud melalui kekuatan-kekuatan yang ada di dalam alam, serta seluruh complex anggapan yang ada di belakangnya. Pada awalnya manusia menggunakan ilmu-imu gaib untuk memecahkan masalahnya, namun lambat laun, mulailah mereka yakin bahwa alam didiami oleh mahluk-mahluk halus yang kemudian menimbulkan munculnya Religi.

Perbedaan Ilmu Gaib dan Religi Menurut Frazer :

Ilmu Gaib         : Segala system dan tingkah laku dan sikap manusia untuk mencapai suatu maksud dengan menguasai dan mempergunakan kekuatan-kekuatan dan kaidah-kaidah gaib yag ada di alam.

Religi                : Segala system tingkah laku manusia untuk mencapai suatu maksud dengan cara menyandarkan diri kepada kemauan dan kekuasaan mahluk-mahluk halus seperti roh-roh, dewa dsb yang ada di alam.

VIII. Menghilangnya Teori-Teori Evolusi Kebudayaan

Pada akhir abad ke 19 mulai timbul kecaman-kecaman terhadap cara berfikir dan cara bekerja para sarjana penganut evolusi kebudayaan. Kecaman mulai menyerang dan unsure-unsur tertentu dalam berbagai karangan dari para penganut teori tentang evolusi kebudayaan manusia. Dalam tahun 1940-an muncul beberapa ahli antropologi inggris dan amerika yag menghidupkan lagi konsep-konsep mengenai evolusi kebudayaan, tetapi yang tidak bersifat seragam bagi semua bangsa di dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: