FOKLOR ” Legenda Sunan Giri dan Kerajaannya Giri Kedaton dalam pemahaman masyarakat Gresik ”

Legenda tentang Sunan Giri yang bernama muda Raden Paku, sangat terkenal di kalangan masyarakat Gresik dan masyarakat desa Giri pada khususnya. Legenda ini merupakan suatu bentuk gambaran sejarah mengenai Sunan Giri mulai dari masa kecil hingga akhir hidupnya. Legenda yang berkembang pada masyarakat Gresik pada umumnya dimulai dengan penjelasan bahwa ketika masih bayi Sunan Giri dimasukkan ke dalam peti dan dilempar ke laut, sampai diselamatkan nakhoda kapal dagang milik Nyai Ageng Pinatih yang merupakan saudagar wanita yang ternama di kalangan kaum pedagang di laut Jawa. Bayi itu dilahirkan oleh Dewi Sekardadu, putri raja Menak Sembuyu dari kerajaan Blambangan yang pernah disembuhkan Maulana Ishak, yang kemudian jadi suaminya, dari suatu penyakit. Dewi Sekardadu akhirnya memeluk agama Islam atas bimbingan Maulana Ishak, meskipun raja Blambangan itu sendiri tak berhasil dibawanya masuk Islam. Itulah sebabnya ia meninggalkan Blambangan, yang lantas kejangkitan wabah penyakit, dan rakyat menuduh kandungan Dewi Sekardadu sebagai penyebabnya. Bayi itu lantas dilarung ke laut lepas. Nyai Ageng Pinatih yang memelihara bayi itu disebut sebagai janda patih Samboja, patih Blambangan, dan tentunya janda pedagang ini Islam, karena menyekolahkan anak angkatnya ini kepada orang suci dari Ngampel Denta.

Menurut tradisi tulis, Babad Gresik, disebutkan bahwa sebelum lahirnya Kerajaan Giri Kedaton pada tahun 1487 M, Gresik dibawa kekuasaan Majapahit pada zamannya. Pendiri Kerajaan Giri Kedaton adalah Joko Samudro atau Raden Paku atau Sunan Giri bergelar Prabu Satmoto atau Sultan Ainul Yakin. Beliau adalah putra dari Maulana Ishak dengan seorang putri Blambangan bernama Dewi Sekardadu. Dewi Sekardadu dihadiahkan oleh ayahnya kepada Maulana Ishak karena beliau berhasil menyembuhkan putri ini dari sakitnya. Sesuai dengan pola umum dalam penulisan babad, nampaknya ditunjukkan kesinambungan asal usul dari seorang pemimpin, sehingga diharapkan ia akan memperoleh pengakuan dari masyarakat. Tampilnya Sunan Giri sebagai pemimpin sekaligus raja pertama Giri Kedaton tidak lepas dari situasi politik Kerajaan Majapahit yang sedang mengalami disintegrasi, setidaknya pada sekitar tahun 1478 M. Namun situasi itu diliputi oleh mitos dan legenda, sehingga memerlukan interpretasi tersendiri. Bagi pengetahuan sejarah yang paling penting adalah bahwa peristiwa itu secara kasar dijadikan sebagai pemisah antara zaman kuno dengan zaman baru dalam sejarah Indonesia.

Menurut Babad Gresik bahwa sebelum Sunan Giri menobatkan diri menjadi Raja Giri Kedaton bergelar Prabu Satmoto dengan disaksikan oleh para wali pada zamannya, beliau mendirikan kedaton (istana) tujuh tingkat (tundha pitu) disebuah bukit, yang kemudian dikenal dengan Giri Kedaton. Pembangunan kedaton berlangsung pada tahun 1408 Saka/1486 M, mendapat gelar Prabu Satmoto pada tahun 1409 Saka/1487 M, kemudian beliau meninggal pada tahun 1428 Saka/1506 M, dimakamkan di Giri Gajah. Pemerintahan Giri kemudian dilanjutkan oleh ahli warisnya yang sering disebut Sunan Dalem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: